Di balik tumpukan piring kotor di dapur, ada renungan dalam hati seorang ibu. Mungkin lelah, mungkin penat, tapi juga ada rasa syukur yang diam-diam menyelinap di sela-sela busa sabun dan gemericik air. Piring-piring itu menjadi saksi, bahwa hari ini keluarga masih bisa makan bersama. Bahwa ada rejeki yang cukup untuk membeli lauk, nasi, dan bahan-bahan sederhana yang diolah penuh cinta oleh tangan ibu.
Piring-piring yang kotor adalah pertanda bahwa anggota keluarga sehat. Sebab saat tubuh sedang sakit, sering kali makanan tak tersentuh, nafsu makan pun hilang. Maka ketika piring kembali kosong karena isinya telah dinikmati, itu tanda kesehatan masih menjadi karunia yang layak disyukuri.
Saat-saat makan bersama juga menyimpan makna tersendiri. Di tengah kesibukan dan dunia yang makin cepat, waktu berkumpul bersama keluarga menjadi kemewahan yang tak semua orang bisa nikmati setiap hari. Maka tumpukan piring kotor itu juga bercerita, bahwa hari ini rumah masih dipenuhi canda dan obrolan ringan di meja makan.
Dan jangan lupa, air bersih yang mengalir dari keran pun adalah nikmat yang besar. Dengan air itulah ibu bisa mencuci beras, memasak sayur, mencuci piring. Betapa banyak orang yang harus bersusah payah mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara di rumah ini, air bersih mengalir dengan mudah, tanpa diminta.
Jadi meski tangan mulai keriput karena air sabun, dan punggung pegal karena berdiri terlalu lama, hati seorang ibu tetap belajar bersyukur. Tumpukan piring kotor bukan sekadar pekerjaan rumah tangga yang melelahkan, tapi juga bukti cinta, nikmat, dan rejeki yang terus mengalir dalam kehidupan sehari-hari.
Sudahkah hari ini kita memeluk ibu, dan mengucap terima kasih untuk semua cinta yang bahkan terlihat dari cucian piring di dapur?

Posted in