Tumpukan baju kotor mungkin tampak seperti pekerjaan rumah yang melelahkan, apalagi jika harus dihadapi setiap hari. Namun, di balik cucian yang menggunung, ada banyak pelajaran syukur yang bisa direnungkan seorang ibu. Setiap helai baju yang harus dicuci adalah bukti bahwa ada rezeki untuk membeli pakaian, bahkan lebih dari satu. Bukan hanya satu seragam sekolah, bukan hanya satu pakaian kerja, bukan hanya satu baju tidur. Itu artinya, keluarga diberi kelapangan rezeki, meski mungkin tidak berlimpah, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Baju-baju kotor juga menandakan bahwa anggota keluarga sehat dan aktif. Anak-anak pergi sekolah, bermain, berlari. Suami bekerja, berkeringat, menjalani tanggung jawab. Bahkan saat melihat baju anak yang mulai kekecilan, ibu diingatkan bahwa anaknya sedang tumbuh—bertambah tinggi, berkembang sehat. Tanda-tanda kecil yang mudah terlewat, padahal begitu berharga.
Lebih dari itu, ada air bersih yang mengalir untuk mencuci. Ada tangan yang kuat untuk mengucek atau mengatur mesin cuci. Ada mata yang bisa melihat noda dan jemari yang bisa melipat hasil cucian. Itu artinya, ibu sendiri pun sedang dalam kondisi sehat. Bisa bergerak, bisa mengurus, bisa menyayangi melalui pekerjaan sehari-harinya.
Seringkali, yang membuat lelah bukanlah pekerjaan itu sendiri, tapi lupa bahwa ada alasan untuk bersyukur di baliknya. Setumpuk cucian bukan semata-mata pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Ia adalah bukti bahwa kehidupan terus berjalan. Anak-anak tumbuh, keluarga sehat, rumah tangga terus bergerak.
Di antara sibuknya hari, ibu bisa berhenti sejenak. Menatap cucian yang menumpuk, bukan dengan keluhan, tapi dengan hati yang lapang. Karena selalu ada celah untuk bersyukur, bahkan dari tumpukan baju kotor yang menunggu untuk dicuci.

Posted in