Setiap sudut rumah penuh dengan mainan. Ada yang berserakan di lantai ruang tamu, ada pula yang tersebar di kamar tidur dan dapur. Sering kali membuat ibu merasa kewalahan. Namun, di balik pemandangan berantakan itu, ada makna mendalam yang bisa membuat hati ibu luluh. Mainan yang berserakan bukanlah tanda ketidakteraturan semata. Itu adalah bukti bahwa anak sehat, aktif, dan sedang tumbuh dengan bahagia.
Jika anak sedang sakit, biasanya mereka hanya terbaring lemas, rewel, atau tidak ingin bermain sama sekali. Maka saat anak semangat mengeksplorasi mainannya, membongkar rak, menyusun balok, atau menciptakan dunia khayalan dari boneka dan mobil-mobilan, sebenarnya itu tanda bahwa tubuh mereka kuat dan jiwa mereka sedang berkembang.
Mainan juga bukan sekadar alat hiburan. Dari situlah anak belajar banyak hal. Mereka belajar warna dari balok kayu, belajar bentuk dari puzzle, mengenal suara dari mainan edukatif, hingga belajar berhitung dari permainan angka. Semua benda yang mereka pegang, acak-acak, dan susun ulang, adalah media belajar yang membuat otak mereka tumbuh dengan pesat. Dunia anak memang tidak bisa dilepaskan dari imajinasi, dan mainan adalah jembatannya.
Di balik tumpukan mainan itu, juga tersimpan rejeki. Rejeki yang Allah titipkan lewat tangan orang tua, hingga mampu membelikan mainan, sekecil atau semurah apa pun itu. Dan lebih dari itu, ada rejeki yang sering terlupa: ibu masih diberi kesehatan, diberi kekuatan, diberi penglihatan, diberi waktu, untuk bisa menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak tumbuh hari demi hari. Tidak semua ibu memiliki kesempatan itu.
Memang tidak mudah menjaga rumah tetap rapi saat anak-anak masih kecil. Tapi rumah tak harus selalu terlihat sempurna untuk menjadi tempat tinggal yang membahagiakan. Yang lebih penting adalah suasana hangat di dalamnya. Anak-anak perlu merasa bahwa rumah mereka adalah tempat yang nyaman untuk bermain, belajar, dan tumbuh. Dan untuk itu, kadang kita perlu menurunkan sedikit standar kerapian demi menaikkan kadar kebahagiaan.
Jika mainan sudah berserakan ke mana-mana, jangan langsung terburu-buru membereskannya di depan anak. Tunggu sampai mereka mulai teralihkan pada kegiatan lain. Lalu, pelan-pelan dibereskan sambil tetap menanamkan kebiasaan merapikan secara perlahan. Tidak semua harus selesai saat itu juga, dan tidak semua harus terlihat sempurna.
Sabar ya, Bu. Masa-masa ini tidak akan berlangsung lama. Kelak, rumah akan kembali rapi. Tapi jangan kaget jika hati justru terasa sepi.
Suatu hari nanti, tumpukan mainan ini hanya akan jadi kenangan. Maka nikmatilah hari ini—seberantakan apa pun rumahmu. Karena di balik itu semua, ada anak yang sehat, tumbuh, belajar, dan merasa dicintai. Dan ada ibu yang luar biasa karena telah membersamai semuanya dengan hati yang kuat.

Posted in