Di era digital seperti sekarang, hampir semua orang memiliki kebebasan untuk berpendapat. Sekali klik, satu komentar bisa langsung tersebar luas ke ribuan orang. Namun sayangnya, kemudahan ini sering kali tidak diiringi dengan kehati-hatian. Banyak yang menulis komentar hanya berdasarkan asumsi, emosi, atau sekadar ikut-ikutan, tanpa menyadari dampaknya. Padahal, satu kalimat yang tampaknya ringan bisa berubah menjadi fitnah yang menyakitkan dan merugikan orang lain.
Banyak ibu rumah tangga yang aktif mengikuti berbagai akun media sosial—dari parenting, selebriti, politik, hingga gosip. Tidak sedikit pula yang ikut menyampaikan pendapat dalam kolom komentar. Sering kali, komentar yang ditulis tanpa data atau pemahaman lengkap justru menambah masalah. Bisa saja ibu tanpa sadar ikut menyebarkan kabar bohong, mendukung ujaran kebencian, atau menyudutkan seseorang hanya karena ikut arus pembicaraan.
Fitnah di media sosial tidak selalu berupa berita palsu besar. Kadang ia bersembunyi dalam komentar ringan seperti, “Kayaknya rumah tangganya bermasalah deh,” atau, “Ih, anaknya kok gitu sih?” Komentar seperti ini terlihat sepele, tapi bisa melukai hati orang lain dan memicu persepsi negatif dari banyak orang.
Dalam Islam, menjaga lisan adalah salah satu bentuk takwa. Dan di era digital, menjaga tulisan sama pentingnya. Apa yang kita tulis di dunia maya juga akan dimintai pertanggungjawaban. Maka penting bagi setiap ibu untuk berpikir sebelum berkomentar: Apakah ini fakta? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini bisa menyakiti? Jika tidak yakin, lebih baik diam.
Lebih dari sekadar menjaga diri dari dosa, bijak berkomentar juga menjadi contoh baik bagi anak-anak. Mereka belajar sopan santun digital dari ibu mereka. Jika ibu terbiasa menulis komentar yang positif dan membangun, anak akan tumbuh dengan etika digital yang sehat pula.
Jadi, mulai hari ini, mari jaga jari kita sebagaimana kita menjaga lisan. Jangan sampai satu komentar ringan hari ini berubah menjadi penyesalan panjang esok hari. Sebab, komentar ibu bisa jadi sumber kebaikan—atau justru membuka jalan bagi fitnah.

Posted in