Liburan Itu Bukan Soal Tujuan, Tapi Soal Perjuangan yang Dibagi Bersama

Banyak dari kita, para suami, merasa sudah menjadi pasangan yang baik hanya karena mengajak istri liburan. Padahal, tanpa sadar, yang kita lakukan kadang cuma memindahkan lokasi kerja mereka. Dari dapur ke villa. Dari rumah ke tempat wisata. Bedanya cuma background, tapi kerepotannya tetap: gendong anak, bawa termos, siapin popok, cari cemilan, dan mendamaikan anak tantrum di depan orang banyak.

Sementara kita? Bawa tripod dan niat selfie buat kenang-kenangan. Tapi, pernahkah kita pikir, yang seharusnya dikenang bukan senyum kita di spot Instagramable—tapi perjuangan diam-diam istri kita yang gak pernah benar-benar libur?

Liburan bagi seorang ibu seringkali bukan healing, tapi justru tour de stress. Karena dalam banyak momen, suami hadir secara fisik, tapi pikiran masih scroll Shopee, mata setengah awas, telinga setengah dengar.

Lalu datang satu momen sadar. Sadar bahwa menjadi suami tidak cukup dengan ikut. Tapi perlu ikut turun tangan. Liburan berikutnya pun jadi titik balik: dari suami pasif, menjadi Bapak Official.

Mulai dari gendong anak rewel, bersihkan pup sambil pasrah, sampai ngejar anak yang lari ke semak-semak—semua diambil alih. Istri akhirnya bisa duduk diam, tanpa tas bayi di pangkuan, tanpa tangan yang terus mencari tisu atau cemilan. Wajahnya kosong bukan karena lelah, tapi karena otaknya untuk pertama kalinya tidak multitasking.

Dan saat itu, sang suami sadar…

Bahwa yang paling dibutuhkan istri bukan Bali, bukan Bandung, bukan staycation mewah.

Tapi: liburan dari rasa sendirian.

Capek itu tidak selalu soal tenaga. Tapi juga soal mental load yang terus dipikul diam-diam. Tentang menjadi orang yang selalu tahu letak barang anak, selalu ingat jadwal imunisasi, selalu sigap menghadapi drama kecil sampai besar—sendirian.

 

Maka, untuk para suami…

Jika membaca ini sambil melihat istri mengejar anak sambil nyari sandal,

Datangilah dia.

Peluk dia dari belakang, dan bisikkan:

 “Gantian ya… Sekarang kamu yang main HP, aku yang rempong.”

Karena mungkin… itu satu-satunya liburan sesungguhnya yang ia tunggu selama ini.

 

Artikel ini dipersembahkan oleh Sekolah Ibu Digital

Untuk para ibu yang ingin bertumbuh, menguat, dan saling menguatkan di era digital.

Mari kita hadirkan ruang diskusi, belajar, dan healing bersama.

 

Sumber inspirasi: Tulisan Junaidi Karo-Karo di Facebook

 

#SekolahIbuDigital

#IbuBukanAsisten

#LiburanTanpaBeban

#BapakOfficial

#DigitalParenting

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: buy backlinks | Thanks to seo, seo services and Insanity Workout